Cara Memilih Minuman Kekinian yang Halal dan Thayib

Di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta pada pertengahan 2026, ada pemandangan yang sudah sangat biasa: antrean panjang di depan booth minuman kekinian. Brown sugar boba, matcha latte, taro milk tea, hingga minuman fermentasi trendi berjajar menarik perhatian. Tapi di balik keindahan visual dan cita rasa yang menggoda itu, ada satu pertanyaan yang sering luput dari benak banyak orang — apakah minuman kekinian yang kita pesan sudah benar-benar halal dan thayib?

Ini bukan soal lebay atau berlebihan dalam beragama. Thayib artinya baik, menyehatkan, dan tidak membahayakan. Halal tanpa thayib itu kurang. Minuman boleh saja bebas dari bahan haram, tapi kalau kandungan gulanya 12 sendok teh dalam satu gelas, atau menggunakan perisa sintetis berlebihan — apakah itu benar-benar baik untuk tubuh yang diamanahkan Allah kepada kita? Nah, di sinilah banyak orang mulai bingung bagaimana cara memilih dengan bijak.

Tidak sedikit yang menganggap bahwa selama minuman tidak mengandung alkohol, maka sudah otomatis halal. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada bahan-bahan tersembunyi yang perlu diperiksa, ada proses produksi yang perlu dipertanyakan, dan ada nilai thayib yang perlu dipertimbangkan. Yuk, kita bahas satu per satu dengan cara yang praktis.


Cara Memilih Minuman Kekinian yang Halal dan Thayib: Mulai dari Mana?

Langkah pertama sebenarnya sederhana: perhatikan sertifikasi. Di Indonesia, sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) adalah rujukan resmi. Sejak regulasi halal diperketat mulai 2025, banyak brand minuman wajib mencantumkan nomor sertifikasi yang bisa diverifikasi langsung melalui aplikasi SiHalal.

Tapi jangan berhenti di logo halal saja. Thayib menuntut lebih dari sekadar kehalalan bahan baku.

Periksa Bahan Baku yang Rawan

Beberapa bahan yang sering digunakan dalam minuman kekinian justru termasuk zona abu-abu dari sisi halal maupun thayib:

  • Perisa makanan (food flavoring): Beberapa perisa berbahan dasar etanol sebagai pelarut. Dalam jumlah kecil memang tidak memabukkan, tapi statusnya perlu dikonfirmasi ke produsen.
  • Gelatin dalam boba atau jelly: Jika tidak dicantumkan sumbernya, bisa berasal dari babi. Pilih produk yang mencantumkan “gelatin sapi bersertifikat halal”.
  • Susu dan krim: Tidak semua varian susu nabati atau krim yang digunakan bebas dari bahan tambahan yang diragukan kehalalannya.
  • Minuman fermentasi trendi (kombucha, kefir): Proses fermentasi bisa menghasilkan kadar alkohol rendah. Cek apakah produsen sudah mendapatkan sertifikasi halal khusus untuk produk fermentasi.

Kenali Label Gizi dan Kandungan Gula

Di sinilah aspek thayib sering diabaikan. Coba bayangkan — ada minuman taro milk tea ukuran large yang mengandung 65 gram gula per sajian. Secara halal mungkin tidak ada masalah, tapi konsumsi rutin seperti ini jauh dari prinsip thayib. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan konsumsi yang tidak berlebihan.

Tips praktisnya: minta “less sugar” atau “no sugar” jika tersedia, dan biasakan membaca kandungan gizi sebelum memesan. Brand kekinian yang amanah biasanya mau transparan soal informasi ini.


Tips Memilih Brand Minuman Kekinian yang Bisa Dipercaya

Tidak semua brand minuman kekinian menyembunyikan informasi. Ada juga yang justru sangat terbuka dan menjadikan kehalalan serta kesehatan sebagai nilai utama mereka.

Cari Brand yang Transparan Soal Proses Produksi

Brand yang serius dengan prinsip halal biasanya mencantumkan informasi ini di website resmi atau media sosial mereka: darimana bahan baku diperoleh, bagaimana proses penyimpanannya, dan apakah dapur produksi sudah tersertifikasi halal BPJPH. Jangan ragu bertanya langsung ke kasir atau melalui akun resmi brand tersebut.

Manfaatkan Komunitas dan Ulasan Muslim

Di tahun 2026, banyak komunitas Muslim yang aktif berbagi informasi soal rekomendasi minuman halal dan thayib di media sosial. Akun-akun review halal food sudah cukup banyak dan terpercaya. Ini cara efektif untuk tidak perlu memulai dari nol setiap kali ingin mencoba minuman baru.


Kesimpulan

Memilih minuman kekinian yang halal dan thayib bukan berarti kita harus menjauh dari tren atau menjadi orang yang “ribet”. Justru ini adalah bentuk kesadaran konsumen yang cerdas sekaligus wujud nyata dari ketaatan kita sebagai seorang Muslim. Dengan memeriksa sertifikasi halal, memahami bahan baku yang digunakan, dan mempertimbangkan kandungan gizi, kita sudah menjalankan hak kita sekaligus kewajiban menjaga tubuh.

Minuman yang halal dan thayib itu ada, dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya kesadaran pasar. Jadi tidak ada alasan untuk menyerah pada pilihan yang ragu-ragu hanya karena tergiur tampilan. Mulai dari sekarang, jadikan kebiasaan kecil ini bagian dari gaya hidup Muslim yang konsisten — karena pilihan yang baik dimulai dari hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari.


FAQ

Apakah minuman yang tidak berlabel halal otomatis haram?

Belum tentu haram, tapi statusnya tidak terjamin. Prinsip kehati-hatian (ihtiyath) dalam fiqih menganjurkan kita untuk memilih yang sudah jelas kehalalannya. Minuman tanpa label halal sebaiknya ditinggalkan jika ada alternatif yang tersertifikasi.

Bagaimana cara mengecek sertifikasi halal minuman secara online?

Anda bisa menggunakan aplikasi SiHalal dari BPJPH atau mengunjungi situs resmi halal.go.id. Cukup masukkan nama produk atau nomor sertifikasi yang tertera di kemasan untuk mendapatkan informasi lengkapnya.

Apakah kombucha dan minuman fermentasi lainnya halal dikonsumsi?

Tergantung kadar alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasinya. Jika kadar alkohol melebihi ambang batas yang ditetapkan dan tidak ada sertifikasi halal khusus, sebaiknya dihindari. Pilih produk kombucha yang sudah mendapatkan sertifikasi halal dari BPJPH untuk ketenangan pikiran.